SOCIETY

New Normal: Sisi Baik Setelah Satu Tahun Bersama Corona

Stress gak sih menjalani satu tahun dengan new normal dan kebiasaan-kebiasaan yang jauh berbeda dari dulu? Stres banget sih enggak, ya. Tetapi saya berusaha berpikir positif. Karena perubahan era ke new normal ini pasti ada sisi baiknya juga. Dan saya mensyukuri adanya beberapa perubahan perilaku yang cukup menyenangkan buat saya. Di sisi lain, saya kadang juga berterima kasih sama corona karena saya berhasil menantang diri saya untuk mengajak Hayun untuk melepaskan diri dari kebiasaan sebelumnya. Selain itu, di lingkungan saya, beberapa orang juga mulai membiasakan diri dengan new normal. Apa saja sih, perubahan perilaku akibat new normal yang bikin saya seneng?

Banyak Penjual Makanan Menggunakan Masker di Era New Normal

Saya selaku content creator di bidang kuliner, terkadang agak risih kalau ada penjual tidak menutup mulutnya saat memproses atau menyiapkan makanan (dalam artian suka ngobrol, merokok, dan kegiatan mangap lainnya). Sejak ada corona, semua pekerja wajib menggunakan masker. Tidak terkecuali penjual makanan. Jadi, saya merasa seneng banget melihat penjual makin bersih dalam menyiapkan makanan.

Pedagang yang sedang dipasangkan masker. Sumber: Republika

Orang-Orang Semakin Giat Bekerja di Era New Normal

Terjadinya PHK massal di beberapa perusahaan memicu sejumlah orang yang stay at home untuk ikut mencari nafkah demi menambah penghasilan. Atau bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri. Atau kita sebut sebagai UMKM istilahnya. Ini menunjukkan bahwa beberapa orang terlihat lebih giat dalam menjaga roda perekonomian terus berputar.

Kerasa nggak sih kalau pelaku UMKM di tempat tinggal kita makin banyak? Dan umumnya dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga dan juga siswa-siswa sekolah menengah. Tak jarang, mereka yang berprofesi sebagai karyawan juga ikut bergelut di bidang UMKM. Di bidang ini, mereka dituntut untuk lebih kreatif karena persaingan di dunia UMKM juga cukup ketat. Apalagi dengan adanya media sosial, sarana promosi jadi lebih mudah untuk dilakukan.

Beberapa contoh produk UMKM. Sumber: bantennews.co.id

Membersihkan Tangan

Tidak hanya para penjual makanan, orang-orang di sekitar juga semakin peduli dengan kebersihan diri. Seperti mencuci tangan sebelum masuk ke dalam rumah atau menggunakan hand sanitizer saja jika terburu-buru  masuk rumah. Di tambah lagi, banyak orang dewasa rajin mencuci tangan, anak-anak juga jadi lebih mudah untuk meniru aktivitas mencuci tangan dengan baik dan benar. Selain itu, yang bikin saya seneng adalah, tempat cuci tangan di tempat umum juga banyak. Jadi, saya nggak perlu risih kalau sewaktu-waktu tangan kotor dan tidak perlu bingung tempat cuci tangan, karena banyak wastafel atau tandon air untuk mencuci tangan di mana saja.

Tempat cuci tangan dapat ditemui di mana saja. Sumber: kompas.com

Meskipun dari efek buruknya saya juga merasakan iritasi karena terlalu sering terpapar alkohol. Saya tetap menyambut positif untuk menjaga tangan tetap bersih. Caranya, setelah memakai sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol dan punya tangan yang sangat sensitif, segera diolesi dengan lotion untuk mencegah kulit kering. Ini efektif banget buat mencegah iritasi pada kulit yang sensitif sama alkohol.

Baca Juga:  Pengalaman Pertama Mengahadapi Banjir Nganjuk

Hay Sudah Stop Pakai Popok

Ini adalah kebiasaan Hay yang berhasil saya terapkan dalam keluarga saya, selama mengurus si kecil. Sejak kedatangan corona, saya dan suami juga ikut merasakan dampak keuangan yang menurun luar biasa. Akhirnya kami memutuskan untuk mensortir barang belanjaan bulanan yang sekiranya dapat dihentikan pembelanjaannya. Kami memutuskan itu adalah popok-nya Hay.

Saat itu Hay masih berusia dua tahun dan masih bergantung pada popok sekali pakai siang-malam. Secara bertahap kami mengurangi pembelanjaan popok sekali pakai dan kami bersyukur ini berhasil sekali. Dalam waktu satu bulan, di siang hari, Hay sudah bisa minta pipis atau BAB di kamar mandi. Meski awalnya berat banget karena dia masih suka ngompol sembarangan dan BAB di celana. Tapi lama kelamaan dia bisa ngomong ke ibu atau ayahnya untuk buang air di kamar mandi.

Memasuki Desember 2020 kemarin, Hay juga sudah mulai minta berhenti pakai popok saat tidur. Mungkin dia mulai risih ya… Meskipun setelah lepas popok malam, saya hampir tiap hari mencuci seprei karena kena ompol. Tapi lama kelamaan Hay bisa bangun waktu malam buat buang air di kamar mandi. Dan itu bener-bener total berhenti ngompol di akhir Februari 2021.

Kesuksesan yang membanggakan…

Gimana nih kalau teman-teman? Ada nggak sih, hal-hal positif setelah membiasakan diri dengan new normal? Dengan adanya perilaku baik seperti ini, keuntungan saya sebagai orang tua adalah jadi lebih mudah untuk mengajak anak melakukan hal-hal baik seperti di atas. Karena anak setiap hari melihat orang berperilaku menjaga kebersihan diri. Akibatnya, anak pasti meniru kebiasaan baik tersebut. Kalau kalian punya pengamatan lain, bolehlah ditaruh di kolom komentar biar kita sama-sama tahu. 🙂

Saya Okta. Ibu dari satu anak, bernama Hayun. Saat ini memiliki kesibukan di bidang kuliner, sekaligus founder @nganjuk_foodies.

4 Comments

  • Hastira

    iya tapi hanay pada orang2 yang memang taat, kalau yang gak sih sami mawon. di kendaraan umum jag skrg sdh banyak yg gak pakai masker , apalagi di pasar. beda dulu awal2 yg pada diperiksa

    • Oktavian Kasih

      Iya, untuk tempat umum memang mulai banyak yang gak sesuai protokol. Di sini masuk minimarket juga udah mulai longgar. Kadang memang perlu ditegur dulu supaya bener-bener mengikuti protokol.

  • Fanny_dcatqueen

    Bener banget mba, pandemi ini sbnrnya punya banyaaaaak sisi positif. Setidaknya dalam hal menjaga kebersihan dan kesehatan.

    Sejak pandemi, aku JD sering merasa risih. Dulu aku kerja di bank. Begitu pandemi masuk, dan orang2 diwajibkan cuci tangan sesering mungkin, aku JD risih kalo pegang uang2 nasabah yg masuk. ATO ketika menghitung uang2 dari para vendor utk pengisian ATM. Pdhl sblmnya biasa aja kalo megang duit. Sejak pandemi, megang duit sedikiiiiit aja, walopun masih baru, aku lgs ngerasa kotor, dan cepet2 cari wastafel.

    Di rumahpun begitu. Dikit2 cuci tangan. Dan ini aku biasain ke seluruh rumah termasuk asistenku dan anak2.

    Trus Krn jadi concern banget Ama kesehatan, menu yg aku susun jadi LBH seimbang . Biasanya sih cendrung daging dan seafood. Skr ga, jadi memperhatikan gizi banget, ngurangin snack2 micin dan perbanyak buah2an. Suplemen vitamin pun setiap hari diminum. Hasilnya, Alhamdulillah selama pandemi kami sekeluarga ga pernah sakit. Aku dan suami sempet positif, tapi selama 2 bulan itu Bener2 OTG. Aku rasa ada faktor dari vitamin dan makanan tadi.

    Yg Trakhir, jadi lebih disiplin sih buatku. Skr ga pernah abis keluar trus nyium2 anak ATO megang barang2? Yg ada setiap abis kluar, barang2 kayak hp dan tas aku masukin ke box steril yg sengaja aku taro Deket pintu masuk rumah, trus lepas baju dan langsung mandi. Baru berani pegang anak :D. Kalo dulukan tiap abis kluar, tiduran dululah di kamar. Ga kepikiran kalo aja ada virus nempel di baju .. 😀 . Dan rasanya aku bakal susah ngelepas kebiasaan2 ini sih. Trutama masker saking udh terbiasa

    • Oktavian Kasih

      Hihi sama, apalagi di lingkungan rumah mulai banyak tetangga yang isoman dan ada yang ngamar di RS. Suamiku yang kadang males cuci tangan pas pulang ke rumah jadi gampang banget dimintain cuci tangan sebelum pegang anak. Dibilang parno sebenernya enggak ya, cuman lebih ke self awareness aja. Karena aku mikirnya nyari rumah sakit sekarang susah banget, kalo kondisi lagi kayak gini. Jadi sebisa mungkin sejak awal harus dijaga banget kebersihan diri dan keluarga. Apalagi di rumah ada anak kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *