SOCIETY

Pengalaman Pertama Mengahadapi Banjir Nganjuk

Sejak saya lahir di Nganjuk, lebih dari 30 tahun yang lalu, baru pertama kali ini, saya menghadapi musibah banjir di tempat tinggal saya. Tepat di hari Valentine, 14 Februari 2021 kemarin, Nganjuk kedatangan tamu besar. Biasanya saya melihat banjir hanya melalui televisi yang terjadi di daerah-daerah langganan banjir, seperti Jakarta. Tapi kali ini saya akhirnya mengalaminya juga, dan merasakan betapa lelahnya membereskan sisa-sisa lumpur akibat banjir di rumah.  Lebih parahnya, banjir Nganjuk ini tidak hanya menggenangi kawasan daerah tapi juga menerjang kota hingga berhari-hari. Lho kok bisa sih?

Awal Mula Banjir Datang

Pada awalnya, sehabis maghrib, banjir mencapai di atas tumit saya. Saat itu cuaca masih hujan gerimis. Saya pikir banjir Nganjuk akan cepat berlalu karena daerah saya di perumahan Candi tidak pernah mengalami hal ini  sebelumnya. Jadi, saya masih sempat video call kakak saya di Kediri sambil bercanda melihat situasi banjir di rumah.

Suami saya saat itu sudah berangkat menuju ke rumah nenek saya di blok paling belakang. Kami cukup khawatir dengan keadaan di sana karena rumahnya dekat sekali dengan sungai besar. Jadi, di rumah hanya ada saya dan Hay aja nih. Berdua.

Makin lama, saya cek sungai kecil di timur rumah, ketinggian air di sungai naiknya cepet banget. Mulai mikir saya, kan. Wah, jangan-jangan ada apa-apa di rumah nenek saya. Saya cek lagi halaman rumah dan ketinggiannya udah nyampe ke betis. Langsung masuk rumah dan mindahin surat-surat berharga ke lemari paling atas. Packing baju ganti. Masukin tas, dompet, HP, charger. Eh tiba-tiba, pett!

Lampu mati.

Air Semakin Tinggi

Ibu-ibu di samping kompleks udah pada teriak-teriak yang bikin saya ikut panik lagi. Begitu keluar rumah, air sudah mencapai kaki pagar rumah saya. Rumah saya salah satu yang jalan masuknya agak tinggi, jadi  kalau turun ke jalan udah nyampe lutut airnya. Langsung deh kunci pintu, bawa Hay jalan menembus terjangan banjir. Karena sandal sama-sama ikut terbawa arus, akhirnya aku gendong Hay. Dia wajahnya cuma bingung. Engga nangis sama sekali. Saya jalan gendong Hay bawa tas isinya baju ganti, kita ngungsi ke minimarket yang masih aman.

Selama ngungsi saya cukup panik karena Hay bajunya basah, nggak pakai sandal, nggak pakai jaket. Untung bawa baju ganti. Yang bikin panik, saya nggak bisa menghubungi keluarga nenek sama sekali. Jadi, saya nggak tahu kondisi nenek dan keluarga bagaimana, bahkan keadaan suami yang sedang bantu mereka saya nggak tahu.

Baca Juga:  Waspada Bencana dengan Tas Siaga Bencana

Selama di minimarket, saya melihat banyak orang tua yang dibantu untuk jalan. Kaget banget. Karena orang-orang semua panik. Ada yang rumahnya udah berantakan banget karena air sudah setinggi dada orang dewasa, katanya. Ada yang bawa kucing anjing ngungsi juga. Ada kakek-kakek yang digendong. Sedih banget lihatnya. Langsung kepikiran lagi, dong, kondisi nenek dan keluarga. Saya akhirnya memutuskan pindah ke minimarket sebelah karena di sana, saya bisa lihat kondisi rumah saya yang masih tergenang banjir.

Beruntung sekali, HP suami yang saya bawa bunyi, ada telepon dari nomor tak dikenal. Ternyata suami saya telepon pakai nomor tetangga saya mencari-cari keberadaan saya dan Hay. Lega banget kita bisa kumpul lagi. Suami ngajak pulang dan pastiin rumah kami masih aman. Dan ternyata bener. Banjir nggak masuk ke rumah, cuma masuk teras dan toko aja. Nangis lega saya. Dan juga langsung ke inget, rumah tetangga sebelah kan tingkat, kenapa nggak ngungsi di sebelah aja? Duhh…

Penyebab Banjir Nganjuk

Jadi, banjir Nganjuk yang barusan terjadi ternyata banjir bandang. Ada beberapa faktor yang menurut saya menjadi penyebab banjir bandang di Nganjuk.  Diantaranya adalah.

  • Langganan Tanah Longsor di Desa Ngetos
Longsor di Desa Ngetos, Kec. Sawahan, Kab. Nganjuk. Sumber: jembatanberita.com

Nganjuk memiliki dataran tinggi yang sering menjadi langganan longsor di musim penghujan seperti saat  ini. Umumnya terjadi di kecamatan Sawahan, yang merupakan kawasan dataran tinggi, yang menjadi salah satu rute menuju ke puncak Gunung Wilis. Kebetulan, terjadi longsor di Desa Ngetos, Sawahan yang menimbulkan banyak korban jiwa.

  • Curah Hujan Tinggi

Selain longsor, di hari tersebut, sekitar pukul 3 sore mulai hujan deras di Nganjuk. Curah hujan cukup tinggi dan berlangsung hingga pukul 9 malam, kira-kira. Tentu saja dengan curah hujan yang tinggi, daerah dataran tinggi menjadi kawasan berbahaya karena tanah menjadi mudah bergeser sehingga menyebabkan longsor.

  • Warga Masih Membuang Sampah Sembarangan

Faktor ketiga yang menurut saya seharusnya bisa dikendalikan manusia adalah masalah membuang sampah. Siapa sih yang nggak kesel lihat ibu-ibu buang sampah segebok ke kali? Pengen gitu rasanya buat marahin, tapi apalah daya saya kalau diserang ibu-ibu sekampung.

Apalagi nenek saya adalah salah satu pelakunya. Hiks…

Jadi, ibu-ibu. Wajar kan kalau sampah yang dibuang ke sungai dapat menyumbat saluran air dan menyebabkan air sungai justru naik ke pemukiman warga. Pliss, stop yuk buang sampah ke sungai. Padahal kalo ada rambut rontok nyumpel di penyaring saluran air kamar mandi aja bikin mampet, apalagi sampah satu pemukiman dibuang ke kali. Gimana gak masuk ke pemukiman air sungainya, hih..

Baca Juga:  Pendidikan Perempuan Menjadikan Karakter Bangsa Lebih Kuat

Bersih-Bersih Rumah

Karena baru pertama kali mengalami banjir Nganjuk ini, saya agak terkejut melewati jalanan di kompleks sekitar rumah nenek saya yang tidak jauh dari sungai. Tanahnya penuh lumpur, jalanan jadi licin, warga menjemur banyak barang-barang besar di depan rumah. Sebagian bergotong royong membuang lumpur yang cukup tinggi menghalangi jalan umum.

Ini menjadi pemandangan yang baru buat saya dan warga Nganjuk. Apalagi nenek saya yang menjemur kasur pegas sudah hampir satu minggu tidak juga kering. Tentu saja karena faktor cuaca mendung hampir setiap hari yang membuat barang-barang besar yang dijemur tak kunjung mengering.

Salah seorang teman saya yang tinggal di kawasan Kauman, justru baru merasakan banjir surut di hari ketiga. Daerah Kauman menjadi lokasi yang cukup parah menurut saya, karena kemungkinan banjir berhenti di kawasan paling rendah di Kauman yang menyebabkan surut menjadi lebih lama.

Lalu bagaimana tanggapan pemerintah daerah saat itu?

Kami bersyukur, langsung ada tindakan dari Bupati Nganjuk. Melaui akun instagram @masnovibupati, beliau melakukan streaming, tengah membersihkan sampah yang menyumbat di bendungan Tiripan menggunakan ekskavator. Lalu pada 24 Februari 2021, saya melihat mesin ekskavator sedang mengeruk tanah di tepi sungai di belakang perumahan saya, yang tepat di seberang rumah nenek saya. Kemungkinan ada pelebaran sungai, yang awalnya berliuk-liuk, menjadi lebih lurus dan luas.

Benar saja, sungai di belakang rumah nenek saya menjadi lebih lebar sehingga air sungai tidak terlalu cepat naik dan mengalir deras.

Suasana banjir dari sudut atas kabupaten Nganjuk. Sumber: SuaraSurabaya.net

Susahnya Mengingatkan

Meskipun banjir telah surut dan aktivitas kembali seperti semula, saya masih melihat ibu-ibu membuang sampah dalam kantong kresek besar ke sungai tersebut. Saya pribadi sudah berusaha mengingatkan nenek saya supaya berhenti membuang sampah ke sungai, akan tetapi reaksi beliau cukup tidak mengenakkan. Beliau tetap kekeuh bahwa banjir tidak disebabkan karena sampah, melainkan karena kami tinggal di dataran rendah.

Hihihi. Ya iya sih, tapi kan air bakal tetep di jalurnya kalau sampah tidak menyumbat saluran air, Mbah…

Seharusnya warga yang tinggal di sekitar sungai mendapat sosialisasi tentang pengolahan sampah rumah tangga. Tidak hanya untuk mengurangi peningkatan sampah di TPA dan mengatur pembuangan sampah dengan baik, tetapi juga membantu lingkungan tempat tinggal menjadi lebih nyaman untuk ditinggali. Kalau kita bisa menjaga lingkungan, yang nyaman kan juga kita dan anak-anak kita.

Semoga ke depannya warga bisa menjadi lebih baik dalam pengelolaan sampah dan tidak lagi ada banjir Nganjuk lainnya.

Saya Okta. Ibu dari satu anak, bernama Hayun. Saat ini memiliki kesibukan di bidang kuliner, sekaligus founder @nganjuk_foodies.

2 Comments

    • Oktavian Kasih

      Alhamdulillah sekarang sudah membaik. Tidak terlalu parah kok Bun. Karena langsung diperbaiki beberapa titik oleh pemdanya. Tidak ada tempat pengungsian Bun, jadi warga yang ninggalin rumah langsung balik ke rumah masing-masing begitu banjir surut..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *