SOCIETY

Pendidikan Perempuan Menjadikan Karakter Bangsa Lebih Kuat

Masalah perempuan pada beberapa tahun terakhir menjadi isu yang semakin menarik untuk diperbincangkan. Perempuan tidak pernah lepas dari stigma yang lebih rendah dari kaum lelaki. Pendidikan perempuan seringkali dianggap remeh, seolah hanya menunjukkan formalitas atau strata sosial belaka. Padahal pendidikan perempuan jauh lebih berharga daripada sekedar formalitas di kehidupan sosial. Namun, yang menjadi masalah baru-baru ini adalah, tidak hanya kaum pria yang berkesempatan merendahkan kaum perempuan, tetapi ada juga yang datang dari sesama perempuan.

Pendidikan Perempuan dan Rumah Tangga

Sejak era kolonialisme, perempuan memang kerap disandingkan dengan masalah rumah tangga. Oleh sebab itu, perempuan yang bersekolah sering dianggap remeh karena ilmu yang diperoleh dari institusi pendidikan formal dianggap tidak akan berguna dalam kehidupan berumah tangga.

Masalah ini pun masih berkembang di era saat ini meskipun dalam layar televisi kita masih memiliki Najwa Shihab, Sri Mulyani, Tri Rismaharini, atau Susi Pudjiastuti. Mereka adalah para perempuan dengan level profesioalismenya di atas laki-laki sesuai bidangnya. Walaupun mereka kerap hadir dengan penampilan yang memukau semua gender, dalam kehidupan sehari-hari, banyak perempuan lain tetap dipandang remeh jika bertindak di luar urusan dapur.

Saya memiliki sejumlah teman perempuan bergelar Sarjana dan memutuskan berakhir di ruang lingkup rumah tangga. Namun cibiran masyarakat kerap mengganggu ketentraman batin mereka.

“Udah kuliah mahal-mahal, ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga.”

Tak sedikit komentar tersebut hadir dan menjadi teror bagi teman-teman saya yang menjatuhkan pilihan hidupnya menjadi ibu rumah tangga. Padahal sejujurnya perempuan-perempuan dengan gelar pendidikan memiliki pengalaman hidup yang lebih luas yang dapat dijadikan pelajaran pada anak-anaknya dibandingkan dengan yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Apapun posisi yang diduduki seorang perempuan, tidak selayaknya mendapat cibiran untuk menunjukkan rasa rendah diri perempuan lainnya. Kesetaraan gender ini seharusnya bisa menjadikan perempuan bebas menentukan pilihan tanpa adanya teror atau kekhawatiran di tengah masyarakat.

Setara Tidak Harus Sama

Dewasa ini kita bisa melihat perwakilan-perwakilan negara yang dipimpin oleh perempuan. Keberadaan perempuan yang menduduki posisi penting yang biasa diperankan oleh laki-laki dianggap menandakan bangsa tersebut memiliki karakter yang cukup kuat. Salah satu contoh konkret adalah Margareth Tatcher, “Iron Lady” yang pernah menjabat sebagai perdana menteri Inggris pada 1979-1990. Ia beberapa kali memenangkan pemilu di parlemen. Ia satu-satunya perempuan yang berani bersuara mengkritisi dominasi militer Soviet kala itu. Keberanian itu yang menjadikan Margareth Tatcher dikenal sebagai Wanita Besi dan dianggap sebagai simbol perempuan dengan karakter yang kuat, yang membuat Inggris tidak dipandang sebelah mata.

Baca Juga:  Kroscek Dulu di Pusat Informasi Corona Sebelum Disebar

Dalam masalah pekerjaan, yang menjadi tolak ukur keberhasilan adalah apakah dia mampu atau tidak dalam membangun citra perusahaan. Bukan masalah apakah dia perempuan atau laki-laki.

Pendidikan Perempuan tanpa memandang status
Perempuan seharusnya bebas menentukan pilihan tanpa cibiran. Sumber gambar: iwpr.org

Secara psikologis, kemampuan manusia tidak dilihat dari gender, melainkan dari latihan terus menerus dan bakat yang dimiliki. Meski secara kodrat, perempuan memiliki hak istimewa (cuti haid, cuti melahirkan, dan sebagainya), bukan berarti ‘setara’ itu harus sama dengan mengabaikan kodratnya sebagai perempuan. Melainkan setara untuk menunjukkan kemampuan dan diapresiasi tanpa merendahkan harkat dan martabat perempuan.

Perempuan yang Menjatuhkan Perempuan Lain

Dewasa ini, masalah kesetaraan tidak hanya mengkritisi perbedaan pencapaian antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga menghadapi cibiran sesama perempuan. Bisa dibayangin kan, kalau perempuan mulai berkomentar pedesnya minta ampun. Apalagi kalau komentar pedas ini ditujukan pada sesama perempuan.

“Udah tahu dia disakitin, masih dipertahanin juga. Bego banget, sih, jadi perempuan.”

Komentar Netizen

Padahal dalam urusan kesetaraan gender ini seharusnya sesama perempuan bisa saling melindungi harkat dan martabat. Ternyata justru bisa terjadi sebaliknya. Hal-hal seperti mulai sering disorot dalam komentar-komentar akun gosip yang menyoroti artis tertentu. Beragam komentar pedas pun dilontarkan oleh akun-akun berjenis kelamin perempuan melalui kolom komentar. Hal ini menandai bahwa peran pendidikan pada perempuan masih kurang untuk menguatkan karakter sebuah bangsa.

Perempuan Harus Melatih Bakat

Sebagai seorang dengan anak perempuan, saya terkadang khawatir anak perempuan saya terjebak dalam kondisi lingkungan yang mengikat dia dengan kesenjangan gender di lingkungan masyarakat. Untuk itu saya mencoba memberikan sejumlah permainan yang dapat menunjukkan bakatnya sehingga di kemudian hari dapat saya dukung untuk lebih berkembang lagi.

Ada banyak media belajar yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan bakat anak tanpa harus memandang gender. Salah satunya adalah EduCenter yang merupakan pusat edukasi pertama dan terbesar di Indonesia dengan lebih dari 20 institusi pendidikan ternama. Lembaga ini sangat mendukung efisiensi waktu dalam mengembangkan bakat anak tanpa memandang gender. Dengan melatih bakat sejak dini, memberikan latihan untuk menghasah bakat sangat berperan besar dalam menghapus masalah kesenjangan gender di masa depan.

Baca Juga:  Kroscek Dulu di Pusat Informasi Corona Sebelum Disebar

Kesimpulan

Dari tulisan di atas, saya ingin memberikan gambaran bahwa perempuan secara psikis menghadapi banyak persoalan kesetaraan. Perempuan seolah mendapat kelas kedua di bawah laki-laki karena kodrat yang berbeda, sehingga sering mendapat cibiran bahkan kekerasan fisik maupun verbal yang menjatuhkan harkat dan martabat perempuan.

Perempuan sejak dini harus mampu mengasah bakat. Bukan untuk ajang pamer, tapi untuk mendapatkan hak yang sama di tengah masyarakat. Tidak terikat oleh norma-norma yang membelenggu kreativitas, baik melalui cibiran dari kaum laki-laki maupun sesama perempuan.

Dukungan dari lingkungan sekitar sangat dibutuhkan tanpa harus merendahkan harkat dan martabat perempuan. Semua harus bisa meleburkan perbedaan gender dan saling mendukung satu sama lain saat seseorang mulai menunjukkan kemampuan atau bakat yang dimiliki.

Perempuan yang terdidik dalam rumah tangga menjadi pondasi penting dalam membangun karakter keluarga menjadi lebih kuat dan berakhlak. Pendidikan perempuan menjadi elemen penting untuk mewujudkan kehidupan yang bersinergi dalam setiap lapisan kehidupan bermasyarakat. Tanpa pendidikan, perempuan akan tetap terkunci dalam sifat rendah diri dan berbagai macam bentuk penindasan menjadi hal yang dianggap biasa oleh generasi mendatang.

“Jika anda mendidik seorang laki-laki berarti anda telah mendidik seorang person, tapi bila anda mendidik seorang perempuan berarti anda telah mendidik seluruh anggota keluarga.”

Nyerere, Presiden Tanzania (1964-1985)

#educenterid

I am Okta, the Oktatopia.com owner. I am a new mother, a wife, and a woman in this universe. I am a new learner of green lifestyle, so feel free to make discuss on the comment board.

4 Comments

  • melek romansa

    Makasih sharingnya & benar sis, perempuan bergelar sarjana memutus jadi ibu rumah tangga memiliki ilmu/pengalaman yang lebih baik untuk diajarkan pada anak-anaknya. Pekerjaan menjadi ibu rumah tangga tidak bisa diremehkan, bahkan lebih berat dibandingkan berkarir di kantor.

    Ibu rumah tangga tidak ada jam kerjanya, sedangkan kantor ada jam kerjanya. Ibu rumah tangga harus memiliki berbagai macam keahlian dibandingkan kantor hanya dibutuhkan dua atau tiga keahlian. Belum lagi posisi ibu rumah tangga punya banyak peran penting bagi keluarganya, seperti dokter, koki, bendahara, guru, dll.

    Perempuan menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang harus dihormati dan tidak kalah mulianya. Selamat hari kartini, mbak oktavian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.