REVIEW

Ini yang Terjadi Ketika Saya Berhenti Donor Darah

Donor darah adalah kegiatan mengambil darah dari dalam tubuh untuk disimpan dan agar dapat ditransfusikan ke tubuh orang lain. Saya sangat senang dengan kegiatan ini dan rutin melakukannya. Dulu. Semuanya diawali ketika darah saya tiba-tiba lebih kental dari biasanya dan susah mengalir melalui selang. Kemudian saya berhenti donor selama dua tahun karena sibuk bekerja. Dan sejak saat itu, saya merasa ada perubahan dalam diri saya.

Kenapa Saya Harus Donor Darah?

Saya memiliki orang tua yang dua-duanya menderita diabetes, dan ayah saya punya komplikasi penyakit jantung, ginjal, dan paru-paru. Sebagai seorang anak, saya tidak ingin mengulangi kesalahan orang tua saya yang (dulu kala) tidak tahu bahwa tindakannya akan membawa mereka pada penyakit ini. Untuk menanggulanginya, salah satunya saya rutin donor darah setiap 3 bulan sekali.

Pertama kali saya donor darah adalah pada saat saya masih SMA kelas XII. Sekitar tahun 2006-2007. Keputusan saya untuk lebih aktif di kegiatan donor darah adalah supaya tubuh saya lebih sehat. Efek yang saya rasakan pun juga lebih baik ketika saya rutin melakukan donor darah. Saya tidak lagi mengalami alergi setiap makan udang atau kepiting.

 

Muncul Alergi Sejak Berhenti Donor Darah

Awal mula saya berhenti donor darah adalah saat petugas PMI gagal mengambil darah melalui dua tangan saya. Karena saat itu rasanya ngilu dan sakit banget dan agak trauma ketemu petugas itu (petugasnya bukan yang biasanya sih, jadi agak males kalau dia lagi yang ngambil darah saya). Kegagalan itu disebabkan oleh darah saya terlalu kental jadi sulit mengalir melalui selang. Masih penasaran, petugas PMI tadi menggoyang-goyangkan jarum yang udah nancep di lengan saya karena mengira jarumnya tidak menembus pembuluh darah saya. Bisa bayangin betapa ngilunya saya waktu itu.

pengambilan sample darah
Ilustrasi pengambilan darah. Sumber: shutterstock.com

Sampai akhirnya di akhir tahun 2016, saya mengalami infeksi telinga luar, yang ditandai dengan rasa gatal di lubang telinga, serta muncul nanah. Dokter THT yang saya datangi menganjurkan saya untuk stop mengkonsumsi ayam, telur, ayam, dan ikan laut (daging merah), untuk menghindari kelebihan protein, katanya.

Setelah saya menikah pada Maret 2017, saya hamil di awal April 2017, dan sepanjang saya hamil sampai melahirkan di bulan Desember, alergi saya tiba hilang begitu saja. Padahal sejak saya ke THT dan mendapat obat dan segala macam wejangannya, alergi itu seperti tidak bisa hilang. Alergi itu selalu muncul kembali setiap saya mengkonsumsi ayam, telur, atau ikan laut.

Pada saat itu saya hanya mengira-ngira, mungkin karena janin dalam perut saya membutuhkan protein, jadi alergi yang disebabkan kelebihan protein itu berangsur-angsur sembuh. Atau bayi dalam kandungan saya menyerap protein berlebih yang ada dalam tubuh saya. Seperti itu kesimpulan saya.

 

Ingin Kembali Donor Darah

Dari pengalaman buruk saya terhadap penyakit ini saya ingin sekali kembali rutin melakukan donor darah. Donor darah tidak melarang orang yang punya alergi untuk mendonorkan darahnya. Akan tetapi, akan lebih baik jika pendonor yang punya alergi tidak sedang kambuh alerginya. Jadi ketika darah ditransfusikan, penerima donor darah tidak akan tertular alergi yang diderita dari pendonor. Ini sangat melegakan bagi saya. Artinya, saya yang punya alergi punya kesempatan untuk membuang kotoran yang ada di dalam darah.

Blood Screening Test
Hasil penyaringan tes darah dari pendonor. Sumber: medindia.net

Tapi jangan langsung berkesimpulan kalau darah yang didonorkan adalah darah kotor. Karena ketika darah diterima oleh pihak PMI, biasanya akan ada proses pengendapan dan penyaringan untuk mengetahui apakah darah tersebut layak didonorkan atau tidak. Apabila darah yang didonorkan dianggap tidak layak, pihak PMI akan menghubungi pendonor untuk memberitahukan bahwa darah yang didonorkan tidak sehat. Alhamdulillah, saya tidak pernah mendapat panggilan dari PMI selama saya donor darah. Maka dari itu, penting sekali buat menuliskan informasi yang jelas pada petugas PMI saat mendonorkan darah kita.

 

Catatan: informasi mengenai donor darah dapat menghilangkan alergi bukan pernyataan dari pihak medis, melainkan kesimpulan pribadi saya yang saya alami sendiri. Efek donor darah mungkin berbeda pada pendonor lainnya dengan masalah alergi yang berbeda pula.

I am Okta, the Oktatopia.com owner. I am a new mother, a wife, and a woman in this universe. I am a new learner of green lifestyle, so feel free to make discuss on the comment board.

2 Comments

    • Oktavian Kasih

      Kayaknya tidak ada kaitannya DM dengan donor darah. Karena DM disebabkan masalah kurangnya insulin yang diproduksi oleh pankreas (CMIIW). Tapi kalau dikaitkan dg jantung pasti ada. Kalau memang memiliki ortu DM sebaiknya cek lab saja dulu. Kalau misal ada DM dan masuk ke tipe yang tidak bisa lepas dari suntikan insulin, setahu saya tidak boleh donor darah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.